Keteladanan Pemimpin yang Mulai Luntur

Senin, 08 Juni 2026 - 09:41:32


Hanum Khoirunnisa 
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan 
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Hanum Khoirunnisa Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi /

Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat semakin sering disuguhi berbagai berita mengenai perilaku pejabat publik yang menuai kontroversi.

Mulai dari kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang, konflik kepentingan, hingga gaya hidup mewah yang dipamerkan di media sosial. Dalam hitungan menit, sebuah peristiwa dapat menjadi viral dan memicu perdebatan luas di ruang publik.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan mencerminkan adanya persoalan yang lebih mendasar dalam tata kelola pemerintahan modern, yaitu krisis keteladanan pemimpin.

Masyarakat saat ini tidak hanya menuntut pemimpin yang cerdas dan mampu menghasilkan kebijakan yang efektif. Lebih dari itu, publik menginginkan sosok yang dapat menjadi contoh dalam sikap, perilaku, dan integritas. Sayangnya, kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin di berbagai level pemerintahan mulai mengalami erosi akibat berulangnya kasus pelanggaran etika yang melibatkan pejabat publik.

Ketika pemimpin kehilangan keteladanan, maka legitimasi moral yang menjadi fondasi kepemimpinan ikut melemah.

Persoalan ini penting dibahas sekarang karena pemerintahan modern menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya.

Di era keterbukaan informasi, setiap tindakan pemimpin dapat diawasi dan dinilai secara langsung oleh masyarakat.

Keputusan yang tidak konsisten, pernyataan yang kontradiktif, maupun perilaku yang dianggap tidak mencerminkan nilai-nilai kepemimpinan akan cepat mendapatkan respons publik.

Akibatnya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan menjadi rentan menurun.Dalam praktiknya, kepemimpinan yang efektif tidak hanya bertumpu pada kekuasaan formal atau jabatan yang dimiliki. Seorang pemimpin memperoleh pengaruh yang kuat ketika mampu menunjukkan kesesuaian antara ucapan dan tindakan.

Masyarakat cenderung lebih mudah mengikuti pemimpin yang memberikan contoh nyata dibandingkan mereka yang hanya pandai memberikan instruksi. Oleh karena itu, keteladanan merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam membangun hubungan antara pemerintah dan warga negara.

Berbagai survei menunjukkan bahwa korupsi masih menjadi salah satu persoalan yang paling mengkhawatirkan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Selain merugikan keuangan negara, korupsi juga mengirimkan pesan negatif kepada masyarakat bahwa jabatan dapat digunakan untuk kepentingan pribadi.

Ketika pejabat yang seharusnya menjadi panutan justru terlibat dalam pelanggaran hukum, maka muncul persepsi bahwa nilai-nilai integritas hanya menjadi slogan tanpa implementasi yang nyata.Krisis keteladanan juga terlihat dari maraknya perilaku elit yang dianggap kurang sensitif terhadap kondisi masyarakat.

Pada saat sebagian warga menghadapi tekanan ekonomi, muncul berbagai pemberitaan mengenai gaya hidup mewah sejumlah pejabat dan keluarganya. Fenomena tersebut memperlebar jarak psikologis antara pemerintah dan rakyat. Akibatnya, kebijakan yang sebenarnya bertujuan baik pun sering kali sulit mendapatkan dukungan karena masyarakat telah kehilangan kepercayaan terhadap pembuat kebijakan.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa banyak pemimpin besar berhasil membawa perubahan bukan semata-mata karena kecakapan teknis mereka, melainkan karena integritas yang mereka tunjukkan secara konsisten.

Keteladanan menciptakan kepercayaan, sementara kepercayaan melahirkan legitimasi. Tanpa legitimasi moral, kekuasaan hanya akan bertumpu pada aturan formal yang sewaktu-waktu dapat kehilangan dukungan publik.

Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah perlu memperkuat budaya etika dalam birokrasi. Penegakan aturan harus dilakukan secara konsisten tanpa memandang jabatan atau kedudukan seseorang. Sanksi terhadap pelanggaran etika harus diterapkan secara transparan agar masyarakat melihat adanya komitmen nyata dalam menjaga integritas lembaga pemerintahan.

Proses rekrutmen dan promosi jabatan publik perlu lebih menekankan aspek rekam jejak moral serta integritas. Kompetensi memang penting, tetapi kompetensi tanpa etika berpotensi melahirkan penyalahgunaan kekuasaan. Pemimpin yang memiliki kapasitas tinggi namun rendah integritas justru dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar bagi institusi.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga kualitas kepemimpinan. Partisipasi publik melalui pengawasan, kritik yang konstruktif, dan keterlibatan dalam proses demokrasi perlu terus diperkuat. Pemimpin yang baik lahir dari sistem yang sehat, dan sistem yang sehat membutuhkan masyarakat yang aktif serta kritis.

Krisis etika dalam pemerintahan bukan hanya persoalan individu, melainkan persoalan masa depan bangsa. Ketika keteladanan pemimpin mulai luntur, maka kepercayaan publik ikut memudar. Sebaliknya, ketika pemimpin mampu menjadi contoh dalam integritas, kesederhanaan, dan tanggung jawab, maka kepercayaan masyarakat akan tumbuh kembali.

Sebab, kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan terletak pada jabatannya, melainkan pada kemampuannya memberi teladan yang layak diikuti.(*)

Hanum Khoirunnisa Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Penulis: Hanum Khoirunnisa