Radarjambi.co.id-Seorang perempuan menjadi ibu tunggal karena berbagai keadaan hidup yang tidak selalu mudah dan sering kali berada di luar rencananya.
Ada perempuan yang menjadi ibu tunggal karena perceraian, ditinggal pasangan meninggal dunia, ditelantarkan, atau harus berpisah karena kekerasan dan ketidakcocokan dalam rumah tangga.
Ada pula yang menjalani peran ini karena suami bekerja jauh dalam waktu lama, tidak hadir secara emosional maupun ekonomi, atau karena kondisi tertentu yang membuat ibu harus mengambil tanggung jawab utama dalam pengasuhan anak. Apa pun penyebabnya, menjadi ibu tunggal bukanlah perkara yang mudah.
Fenomena ibu tunggal bukanlah hal kecil di Indonesia. Data Long Form Sensus Penduduk BPS tahun 2022 mencatat terdapat 13.507.026 perempuan yang berstatus sebagai kepala rumah tangga.
Istilah ini memang tidak seluruhnya identik dengan ibu tunggal, tetapi menunjukkan besarnya jumlah perempuan yang memikul tanggung jawab utama dalam keluarga.
Sejumlah kajian akademik yang merujuk data BPS 2022 juga menyebut jumlah ibu tunggal di Indonesia mencapai sekitar 7,9 juta orang, lebih tinggi dibanding ayah tunggal sekitar 2,7 juta orang.
Angka ini memperlihatkan bahwa perjuangan ibu tunggal adalah realitas sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat kita.
Seorang ibu tunggal harus menjalankan banyak peran sekaligus dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menjadi ibu yang lembut, sosok yang tegas, pencari nafkah, pendengar yang sabar, hingga pelindung utama bagi anak-anaknya.
Ia tidak hanya dituntut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga harus hadir secara emosional ketika anak membutuhkan perhatian, nasihat, dan kasih sayang.
Dalam situasi yang sering kali melelahkan, ibu tunggal tetap berusaha menciptakan rumah yang hangat, aman, dan penuh dukungan bagi tumbuh kembang anak.
Perjuangan tersebut menunjukkan bahwa seorang ibu tunggal memiliki ketangguhan luar biasa dalam menghadapi tekanan hidup tanpa mengabaikan tanggung jawab pengasuhan.
Di balik semua itu, ibu tunggal memiliki kekuatan besar untuk membesarkan anak dengan cinta, menanamkan nilai-nilai kebaikan, serta membentuk kedisiplinan yang menjadi bekal penting bagi masa depan anak.
Mendidik anak dengan cinta bukan berarti selalu menuruti semua keinginannya. Cinta dalam pengasuhan justru hadir ketika seorang ibu mampu memahami perasaan anak, mendengarkan ceritanya, tetapi tetap memberikan batasan yang jelas.
Anak perlu dipeluk saat sedih, didengar saat marah, dan diberi ruang untuk menyampaikan isi hatinya. Namun, anak juga perlu belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi dan setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Bagi ibu tunggal, ketegasan sering kali menjadi tantangan. Ada rasa iba karena anak tumbuh tanpa kehadiran salah satu orang tua secara utuh.
Kadang muncul dorongan untuk mengganti kekosongan itu dengan kelonggaran berlebihan. Padahal, anak bukan hanya membutuhkan kasih sayang, tetapi juga arah. Ketegasan yang disampaikan dengan tenang akan membuat anak merasa aman, karena ia tahu mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Ketegasan tidak sama dengan kekerasan. Ibu dapat membuat aturan sederhana di rumah, seperti waktu belajar, waktu bermain, kewajiban membantu pekerjaan rumah, dan cara berbicara yang sopan.
Ketika anak melanggar, ibu tidak perlu membentak atau merendahkan. Jelaskan kesalahannya, berikan konsekuensi yang wajar, lalu ajak anak memahami pelajaran dari kejadian tersebut.
Seorang ibu tunggal juga perlu menjadi teladan. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang ia lihat setiap hari.
Ketika ibu bekerja keras, jujur, sabar, dan tetap berusaha meski lelah, anak belajar arti perjuangan. Ketika ibu berani meminta maaf saat salah, anak belajar kerendahan hati. Ketika ibu menyayangi tanpa memanjakan, anak memahami bahwa cinta sejati bukan hanya memberi, tetapi juga membimbing.
Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan ibu yang sempurna. Anak membutuhkan ibu yang hadir, mencintai, mengarahkan, dan berani tegas demi kebaikannya.
Dalam pelukan seorang ibu tunggal, anak tetap dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, penuh empati, dan percaya bahwa keluarga yang penuh cinta tidak selalu harus sempurna bentuknya, tetapi harus hangat, jujur, dan saling menguatkan.(*)
Penulis : Hani Irawati, Spd dosen di Program studi Pendidikan Biologi Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan
Pelanggaran HAM di Inonesia Antara Penegakan Hukum dan Reakitas Keadilan
Negara Digital, Rakyat Manual: Mengapa Urus Dokumen Masih Harus Bolak-Balik?
Pemerintah Kota Jambi Beri Penghargaan Bagi Pelaku Usaha dan Ivestor