Radarjambi.co.id-Jalan pada dasarnya dibangun untuk mempermudah masyarakat dalam menjalankan aktivitas, menempuh pendidikan, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Namun, tujuan tersebut perlahan kehilangan makna ketika kondisi jalan justru menimbulkan kekhawatiran bagi para pengguna. Situasi ini tampak jelas di sepanjang Jalan Dr. Mohammad Hatta menuju kawasan kampus Universitas Andalas di Padang.
Ruas jalan yang setiap hari dipadati mahasiswa, pekerja, dan masyarakat itu kini dipenuhi kerusakan serta lubang yang dapat mengancam keselamatan pengendara.
Di sisi lain, berkembang pandangan di masyarakat bahwa perbaikan jalan kerap dilakukan hanya ketika terdapat agenda besar, seperti kedatangan pejabat penting maupun kunjungan presiden.
Keadaan ini menimbulkan kesan bahwa kepentingan masyarakat sering kali dikesampingkan, sementara perbaikan infrastruktur lebih difokuskan untuk menjaga penampilan daerah di hadapan para tamu negara.
Jalan yang sebelumnya rusak dan lama tidak mendapat perhatian mendadak diperbaiki dengan cepat saat ada kegiatan penting atau kunjungan pemerintahan tertentu.
Situasi tersebut tentunya memicu kekecewaan di tengah masyarakat. Fasilitas publik seperti jalan seharusnya dipelihara secara rutin karena menjadi kebutuhan yang digunakan setiap hari oleh masyarakat, bukan hanya diperbaiki saat mendapat sorotan dari pemerintah pusat maupun media.
Masyarakat tidak membutuhkan perbaikan yang hanya bersifat sementara untuk kepentingan tertentu, melainkan perhatian yang serius dan berkesinambungan terhadap kondisi infrastruktur.
Terlebih, bagi para pengguna jalan yang setiap hari melewati ruas tersebut, ancaman kecelakaan dapat datang sewaktu-waktu tanpa mengenal adanya agenda penting ataupun kunjungan pejabat negara.
Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh video dari seorang Motovlog yang menampilkan kecelakaan seorang mahasiswi di Jalan Dr. Mohammad Hatta. Video tersebut sontak menarik perhatian masyarakat karena memperlihatkan secara langsung bagaimana kondisi jalan yang rusak dapat membahayakan keselamatan pengendara, terutama pada malam hari.
Peristiwa itu menjadi gambaran nyata bahwa jalan berlubang bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan, melainkan ancaman serius bagi masyarakat yang melintas setiap harinya.
Minimnya penerangan di beberapa titik jalan, ditambah kondisi aspal yang dipenuhi lubang, membuat pengendara kesulitan mengantisipasi bahaya saat berkendara di malam hari, khususnya bagi mahasiswa yang rutin melewati jalur tersebut menuju dan pulang dari kampus.
Masalah jalan berlubang menunjukkan bahwa perhatian terhadap pengawasan dan perawatan infrastruktur masih belum optimal. Penanganan jalan rusak umumnya baru dilakukan saat kondisinya semakin memburuk atau setelah masyarakat ramai menyampaikan keluhan.
Padahal, pemeliharaan yang dilakukan secara berkala dan tindakan pencegahan sejak dini tentu lebih efektif dibanding harus menunggu munculnya korban kecelakaan. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya lebih sigap dalam mengambil langkah perbaikan sebelum kondisi jalan menjadi ancaman bagi keselamatan pengguna jalan.
Masyarakat tentu menaruh harapan besar agar pemerintah segera melakukan perbaikan menyeluruh pada ruas Jalan Dr. Mohammad Hatta hingga kawasan Universitas Andalas, bukan sekadar tambal sulam yang sifatnya sementara.
Jalan yang layak bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur semata, tetapi juga bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.
Ketika jalan yang setiap hari dilalui justru menghadirkan kekhawatiran, maka yang perlahan hilang bukan hanya kualitas jalannya, melainkan juga kepercayaan masyarakat terhadap perhatian dan keseriusan pemerintah.
Barangkali jalan rusak akan lebih cepat diperbaiki jika setiap lubangnya berada tepat di depan kantor para pengambil kebijakan.(*)
Penulis : Reyhan Syahru Ramadhan mahasiswa Universitas Andalas,
Pendidikan Nasional di Persimpangan Zaman: Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2026
Pelanggaran HAM di Inonesia Antara Penegakan Hukum dan Reakitas Keadilan