Radarjambi.co.id-Perangkat kecerdasan buatan atau akal imitasi (artificial intelligence/AI) kini telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Berbagai kalangan usia mulai memanfaatkan teknologi ini untuk menyelesaikan beragam tugas sehari-hari.
Namun, perubahan tersebut tidak berlangsung dengan kecepatan yang sama pada setiap kelompok masyarakat. Perbedaan dalam mengenal, memahami, mempercayai, dan memanfaatkan AI menunjukkan adanya kesenjangan adopsi antargenerasi.
Fenomena ini terlihat di Indonesia. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 menunjukkan bahwa pengguna AI paling banyak berasal dari Generasi Z, yakni 43,7 persen, disusul generasi milenial sebesar 22,3 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa kelompok usia muda menjadi kelompok yang relatif lebih aktif dalam memanfaatkan teknologi AI.
Kecenderungan serupa juga terlihat secara global. Penelitian Pew Research Center (2025) menunjukkan bahwa generasi muda lebih banyak mengetahui dan berinteraksi dengan AI dibandingkan kelompok usia lanjut.
Sebanyak 62 persen responden berusia di bawah 30 tahun menyatakan telah banyak mendengar atau membaca mengenai AI. Sementara itu, pada kelompok usia 65 tahun ke atas, angkanya hanya 32 persen.
Di lingkungan kerja, perbedaan tingkat adopsi AI juga terlihat. Analisis Randstad bersama London School of Economics (2026) menunjukkan bahwa 83 persen pekerja Generasi Z menggunakan AI dalam pekerjaan mereka.
Angka tersebut menurun menjadi 73 persen pada generasi milenial, 60 persen pada Generasi X, dan 52 persen pada kelompok baby boomer.
Perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa setiap generasi memiliki pengalaman teknologi yang berbeda. Bagi banyak generasi muda, teknologi digital sudah hadir sejak awal kehidupan mereka.
Internet, aplikasi digital, dan berbagai inovasi teknologi telah menjadi bagian dari keseharian. Karena itu, AI sering kali dipandang sebagai perkembangan lanjutan dari teknologi yang sebelumnya sudah mereka gunakan.
Sebaliknya, bagi banyak orang yang lebih tua, AI merupakan teknologi baru yang membutuhkan proses adaptasi.
Tantangannya bukan semata-mata kemampuan teknis menggunakan perangkat tersebut, tetapi juga perubahan kebiasaan dan cara kerja yang telah terbentuk dalam waktu lama.
Pengalaman panjang dalam menggunakan cara kerja tertentu dapat membuat proses adopsi teknologi baru membutuhkan waktu lebih panjang.
Hal ini bukan berarti kelompok usia yang lebih tua tidak mampu menggunakan AI, melainkan menunjukkan bahwa setiap generasi memiliki titik awal dan pengalaman teknologi yang berbeda.
Kesenjangan adopsi AI ini perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi hubungan antargenerasi. Dalam keluarga, perbedaan cara memandang AI dapat memunculkan perbedaan pendapat mengenai penggunaan teknologi oleh anak.
Dalam pendidikan, guru dan peserta didik dapat memiliki pengalaman serta harapan yang berbeda terhadap pemanfaatan AI dalam pembelajaran. Sementara itu, dalam organisasi, perbedaan tingkat adopsi dapat memengaruhi pola kerja dan kolaborasi.
Karena itu, kesenjangan AI tidak seharusnya dipahami hanya sebagai persoalan siapa yang lebih cepat menggunakan teknologi. Perbedaan tingkat adopsi AI juga mengubah dinamika hubungan antargenerasi.
Proses belajar mengenai AI tidak lagi berjalan dalam satu arah karena setiap kelompok memiliki pengetahuan dan pengalaman yang dapat saling melengkapi.
Dalam hal ini, setiap generasi perlu melihat kelebihan dan keterbatasannya masing-masing. Generasi muda umumnya lebih cepat mengeksplorasi teknologi baru.
Namun, kemampuan tersebut perlu dilengkapi dengan pemahaman terhadap konteks dan persoalan nyata. Sebaliknya, generasi yang lebih senior memiliki pengalaman, pengetahuan praktis, serta pemahaman yang terbentuk dari berbagai situasi yang telah mereka hadapi.
Dengan demikian, upaya menjembatani kesenjangan AI perlu diarahkan pada proses belajar yang lebih terbuka antargenerasi. Literasi AI tidak dapat diberikan dengan pendekatan yang sama kepada semua kelompok usia.
Bagi generasi yang lebih tua, pelatihan AI perlu menekankan manfaat praktis, kenyamanan dalam menggunakan teknologi, serta pemahaman mengenai risiko dan etika penggunaannya.
Sementara itu, bagi generasi muda, literasi AI tidak cukup berhenti pada kemampuan mengoperasikan berbagai perangkat. Mereka juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis untuk memahami konteks, memeriksa informasi, dan menilai keterbatasan hasil yang dihasilkan AI.
Dalam lingkungan kerja, salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah reverse mentoring, yaitu proses belajar dua arah antara pekerja yang lebih senior dan pekerja yang lebih muda.
Generasi senior dapat berbagi pengalaman serta pemahaman mengenai persoalan pekerjaan, sedangkan generasi muda dapat berbagi pengetahuan mengenai pemanfaatan teknologi AI.
Dengan cara ini, pembelajaran tidak berjalan dari satu kelompok kepada kelompok lain, melainkan berlangsung secara timbal balik.
AI akan terus berkembang dan semakin banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan.
Tantangannya bukan hanya bagaimana masyarakat mengikuti perkembangan teknologi, tetapi bagaimana memastikan setiap generasi dapat memperoleh manfaat dari perkembangan tersebut.
Ketika pengalaman dan kemampuan memanfaatkan teknologi dipertemukan, perbedaan antargenerasi dalam penggunaan AI tidak harus menjadi hambatan.
Perbedaan tersebut dapat menjadi ruang untuk membangun cara belajar baru yang lebih saling melengkapi.(*)
Penulis: Sartana, M.A. Dosen Psikologi Sosial di Universitas Andalas
Ketika Jurnalis Berubah Jadi Pekerja Serba Bisa di Industri Media
Dari FYP ke Aksi Nyata Transformasi Komunikasi Lingkungan di Era Algoritma