Radarjambi.co.id-Kita peringati Hari Buku Nasional pada 17 Mei 2026. Momentum itu digagas oleh tokoh Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Nasional (saat itu), Abdul Malik Fadjar, pada 2002 silam.
Lewat momentum Hari Buku Nasional, Mendiknas Abdul Malik Fadjar mengajak untuk membangun budaya membaca di Tanah Air. Hal itu didasarkan pada pandangannya bahwa kemajuan bangsa dimulai dari literasi dan pengetahuan. Benarkah demikian?
Secara historis, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) berdiri sejak 17 Mei 1980 silam. Kini, setelah 46 tahun berlalu, Perpusnas menjadi institusi yang berdiri di garda terdepan dalam pengembangan budaya literasi/baca-tulis di Tanah Air.
Perpusnas dibantu oleh unit pelaksana teknis (UPT) di tingkat daerah (provinsi, kota/kabupaten) dan organisasi kemasyarakatan (Ormas) dapat bahu-membahu mengembangkan budaya literasi bagi masyarakat Indonesia.
Muhammadiyah
Salah satu Ormas Islam di Indonesia adalah Muhammadiyah. Sebagai gerakan Islam moderat, Muhammadiyah berfokus pada dakwah amar makruf nahi mungkar melalui lembaga pendidikan, sosial, dan kesehatan.
Muhammadiyah memiliki banyak perguruan tinggi (PT), sekolah, madrasah, hingga pondok pesantren. Semua lembaga pendidikan milik Muhammadiyah itu memiliki perpustakaan, yang kelak menjadi ujung tombak dari budaya literasi.
Melalui perpustakaan di lembaga-lembaga pendidikannya, Muhammadiyah berikhtiar menumbuhkan budaya baca-tulis.
Di lingkungan sekolah, para guru dan siswa Muhammadiyah senang membaca novel, antologi cerita pendek, dan antologi puisi. Demikian halnya di lingkungan PT, para dosen dan mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah & ‘Aisyiyah (PTMA) senang menulis puisi, bunga rampai, dan buku ajar.
Di lingkup internal, Muhammadiyah memiliki Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) di level nasional (Pimpinan Pusat/PP), provinsi (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah/PWM), kota/kabupaten (Pimpinan Daerah Muhammadiyah/PDM), hingga kecamatan (Pimpinan Cabang Muhammadiyah/PCM).
Lewat MPI, Muhammadiyah mendorong literasi/baca-tulis menjadi budaya publik di kalangan masyarakat kita.
Sebagai contoh, MPI PP Muhammadiyah telah membuat pojok “Muhammadiyah Corner” di sejumlah kampus dan perpustakaan umum. Harapannya, masyarakat melek huruf/literat terhadap kiprah dan sejarah Muhammadiyah.
Kita tahu, Muhammadiyah merupakan organisasi Islam modern terbesar di Indonesia yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912. Muhammadiyah telah berperan besar dalam perjalanan Indonesia saat ini.
Literasi Bangsa
Terkait itu, ajakan Mendiknas Abdul Malik Fadjar melalui Hari Buku Nasional diteruskan oleh banyak pihak. Salah satunya ialah Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute yang memiliki program, antara lain, Ruang Gagasan, Riset Pengembangan Mutu Pendidikan, Pendampingan Pengembangan Lembaga Pendidikan, sampai Perpustakaan Keliling Mobil Bakti untuk Bangsa. Singkat kata, spirit Mendiknas Abdul Malik Fadjar tetap lestari sepanjang masa.
Akhir kata, lewat momentum Hari Buku Nasional, kita kembali disadarkan pentingnya membaca-menulis buku. Aktivitas literasi itu insyaallah bermanfaat dan menjadi bagian dari pembangunan bangsa. Kita berharap, literasi bangsa kita meningkat dan berdampak sehingga proses pemajuan bangsa terwujud.
Sebagai penutup, kita renungkan kata-kata Victor Hugo. “Belajar membaca berarti menyalakan api; setiap suku kata yang dieja adalah percikan.” (*)
Penulis : Sudaryanto, M.Pd. Dosen PBSI FKIP UAD; Penulis dan Editor Buku: Anggota Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi PRM Nogotir
to
Pelanggaran HAM di Inonesia Antara Penegakan Hukum dan Reakitas Keadilan
Negara Digital, Rakyat Manual: Mengapa Urus Dokumen Masih Harus Bolak-Balik?
Penerapan Komunikasi Dalam Industri Pariwisata di Indonesia : Rahasia Keasrian Desa Penglipuran, Bal
Mengenal Desa Sade Lombok: Desa Adat Suku Sasak yang Tetap Authentic di Era Digital