Mengenal Desa Sade Lombok: Desa Adat Suku Sasak yang Tetap Authentic di Era Digital

Senin, 04 Mei 2026 - 11:17:08


/

Radarjambi.co.id-Mengenal Desa Sade di Lombok Tengah bukan sekadar mengenal destinasi wisata, tetapi memahami bagaimana sebuah komunitas adat bertahan di tengah arus industri pariwisata modern.

Di sinilah kita dapat melihat secara konkret penerapan komunikasi dalam industri pariwisata di Indonesia, bukan hanya sebagai alat promosi, tetapi sebagai strategi mempertahankan identitas budaya.

Desa Sade yang terletak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, merupakan desa adat Suku Sasak yang telah bertahan lebih dari 1.500 tahun.

Dengan luas sekitar 5,5 hektar dan sekitar 150 rumah tradisional, masyarakatnya masih menjalankan kehidupan berbasis adat secara konsisten .

Dalam lanskap pariwisata yang cenderung mengejar estetika visual, Desa Sade justru menawarkan sesuatu yang lebih mendasar: keaslian.

Di sinilah komunikasi menjadi kunci, bagaimana budaya tidak hanya dipertahankan, tetapi juga “dipahami” oleh orang luar.

Storytelling: Menghidupkan Tradisi yang Dianggap Asing

Salah satu kekuatan utama Desa Sade terletak pada cara mereka menyampaikan cerita. Wisatawan tidak hanya melihat rumah adat dengan atap alang-alang, tetapi juga diajak memahami filosofi di baliknya.

Rumah-rumah di Desa Sade dibangun dari material alami seperti bambu, tanah liat, dan jerami. Lantainya bahkan dilapisi campuran tanah liat dan kotoran kerbau yang berfungsi untuk menguatkan struktur sekaligus mengusir serangga .

Secara kasat mata, praktik ini mungkin dianggap tidak lazim. Namun melalui penjelasan para pemandu lokal, makna di baliknya justru menjadi daya tarik utama.

Di sinilah storytelling bekerja sebagai strategi komunikasi: mengubah sesuatu yang awalnya dianggap “aneh” menjadi pengetahuan yang bernilai.

Wisatawan tidak lagi sekadar melihat, tetapi memahami. Seperti halnya saya yang telah berkunjung ke Desa Sade, akhirnya dapat memahami bahwa cerita tentang “Kawin Culik” dalam tradisi Suku Sasak masih terjadi, dan pola pemaksaan tersebut menjadi ciri khas dari desa tersebut, dan masih turun temurun dilakukan.

Storytelling yang disampaikan oleh pemandu membuat wisatawan lebih mengenal Desa Sade lebih dalam selain rumah adat dan masyarakatnya. 

Warga sebagai Subjek, Bukan Objek

Desa Sade juga menunjukkan bahwa komunikasi pariwisata yang efektif harus melibatkan masyarakat lokal secara aktif. Warga tidak hanya menjadi “pajangan budaya”, tetapi aktor utama dalam menyampaikan narasi tentang diri mereka.

Hal ini terlihat dari aktivitas sehari-hari masyarakat, seperti menenun kain songket yang menjadi sumber penghasilan sekaligus identitas budaya.

Bahkan, perempuan di Desa Sade diwajibkan mampu menenun sebelum menikah . Tradisi ini bukan hanya dipertahankan, tetapi juga dikomunikasikan kepada wisatawan sebagai bagian dari pengalaman budaya.

Dengan demikian, komunikasi tidak bersifat satu arah, melainkan dialog antara wisatawan dan masyarakat. Inilah yang membuat pengalaman wisata terasa lebih autentik.

Digitalisasi dan Tantangan Autentisitas

Di tengah perkembangan media sosial, banyak destinasi wisata mengalami komodifikasi budaya, tradisi dipoles agar “Instagram able”, namun kehilangan makna. Desa Sade menghadapi tantangan serupa, tetapi memilih pendekatan yang lebih selektif.

Meskipun kini menjadi destinasi populer yang mudah diakses dari bandara, desa ini tetap mempertahankan aturan adat, seperti larangan berpakaian tidak sopan dan pembatasan akses ke ruang tertentu.

Aturan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk komunikasi nilai: bahwa wisatawan datang bukan untuk mengubah budaya, tetapi untuk menghormatinya.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak harus mengorbankan identitas. Justru dengan komunikasi yang tepat, teknologi dapat menjadi alat untuk memperluas pemahaman tentang budaya lokal.

Pentingnya Komunikasi Non-Verbal

Selain komunikasi verbal melalui cerita, kekuatan Desa Sade juga terletak pada interaksi sosialnya.

Keramahan masyarakat Sasak menjadi bentuk komunikasi non-verbal yang membangun kepercayaan wisatawan. Interaksi yang hangat dan inklusif membuat wisatawan merasa diterima, bukan sekadar dilayani.

Pengalaman ini jauh lebih membekas dibandingkan sekadar visual yang indah. Dalam konteks pariwisata, kepercayaan semacam ini menjadi aset yang tidak tergantikan.

Desa Sade menunjukkan bahwa keberhasilan pariwisata tidak terletak pada seberapa viral suatu tempat, tetapi pada seberapa jujur ia mempertahankan identitasnya.

Melalui storytelling yang kuat, komunikasi partisipatif, serta kemampuan menyeimbangkan tradisi dan digitalisasi, Desa Sade menjadi contoh nyata penerapan komunikasi dalam industri pariwisata di Indonesia yang berorientasi pada keberlanjutan budaya.

Apa yang dilakukan Desa Sade seharusnya menjadi refleksi bagi pengembangan pariwisata nasional. Lewat bimbingan dan kerangka berpikir dari akademisi seperti Drs.Widiyatmo Ekoputro,MA, kita belajar bahwa menjaga tradisi tidak berarti menutup diri dari kemajuan.

Di tengah kompetisi global, yang justru dicari oleh wisatawan bukanlah yang paling modern, tetapi yang paling authentic. Dan keotentikan itu hanya bisa bertahan, jika dikomunikasikan dengan cara yang tepat.(*)

 

 

Penulis : Rara Dify Aidillah Mahasiswi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya