Inovasi Produk Lokal sebagai Kunci Peningkatan Nilai Tambah Hasil Perikanan

Posted on 2026-07-13 15:35:21 dibaca 73 kali

Radarjambi.co.id-Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan sumber daya laut yang melimpah. Namun, di balik kekayaan tersebut, masih banyak masyarakat pesisir yang belum benar-benar menikmati hasilnya.

Tidak sedikit nelayan dan pelaku usaha perikanan yang tetap hidup dengan penghasilan pas-pasan karena hasil tangkapan dijual apa adanya, tanpa diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Saat musim panen tiba, pasokan meningkat dan harga justru turun. Akibatnya, pendapatan mereka sulit berkembang.

Kondisi seperti ini masih dijumpai di Dusun Kerajan, Desa Randuboto, Kabupaten Gresik. Masyarakat setempat selama bertahun-tahun mengandalkan penjualan ikan pari asap sebagai sumber penghasilan.

Sayangnya, produk yang dipasarkan masih terbatas pada satu jenis, dikemas secara sederhana, dan belum mampu bersaing dengan produk olahan yang lebih modern. Padahal, bahan baku yang mereka miliki memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih bernilai.

Melihat potensi tersebut, program pengabdian kepada masyarakat yang dijalankan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Mutiara Ramadhani Firdaus bersama tim nya di bawah bimbingan dosen pendamping Fiky Two Nando, S.T., M.T., hadir dengan pendekatan yang sederhana, tetapi relevan.

Warga diajak mengolah ikan pari asap menjadi tiga produk baru, yaitu sambal ikan pari asap, ikan pari asap suwir, dan nasi bakar ikan pari asap.

Ketiga produk ini dipilih karena mudah dibuat, menggunakan bahan yang mudah diperoleh, dan dapat diproduksi dengan peralatan dapur yang sudah dimiliki masyarakat.

Yang menarik, program ini tidak sekadar memberikan pelatihan. Masyarakat dilibatkan sejak awal, mulai dari mengidentifikasi kebutuhan, mengikuti demonstrasi produk, hingga mempelajari cara menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual yang menguntungkan.

Pendekatan seperti ini membuat warga tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memahami dan menerapkannya secara mandiri.

Hasilnya cukup menjanjikan. Produk olahan dengan biaya produksi sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000 dapat dipasarkan dengan harga Rp15.000 sampai Rp27.000.

Selisih tersebut menunjukkan bahwa proses pengolahan mampu memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan menjual ikan pari asap dalam bentuk biasa. Bukan hanya meningkatkan keuntungan, diversifikasi produk juga membuka peluang pasar yang lebih luas.

Meski demikian, pekerjaan belum selesai. Keberhasilan sebuah program tidak cukup diukur dari antusiasme saat demontrasi berlangsung. Masyarakat masih membutuhkan pendampingan agar semakin percaya diri memproduksi dan memasarkan produknya secara mandiri.

Di sisi lain, proses pengasapan yang masih dilakukan secara tradisional juga perlu distandarkan agar kualitas produk tetap konsisten dan mampu memenuhi kebutuhan pasar yang lebih besar.

Kisah dari Randuboto mengingatkan kita bahwa kekayaan laut tidak akan otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika tidak dibarengi dengan inovasi.

Nilai tambah tidak tercipta hanya karena melimpahnya sumber daya, tetapi lahir dari kemampuan mengolah, mengemas, dan memasarkan potensi tersebut secara lebih kreatif.

Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar inovasi seperti ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan menjadi langkah nyata menuju kemandirian ekonomi masyarakat pesisir.(*)

 

 

 

Penulis :  Mutiara Mahasiswi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Copyright 2018 Radarjambi.co.id

Alamat: Jl. Kol. Amir Hamzah No. 35 RT. 22 Kelurahan Selamat Kecamatan Danau Sipin Kota Jambi, Jambi.

Telpon: (0741) 668844 / 081366282955/ 085377131818

E-Mail: radarjambi12@gmail.co.id