Radarjambi.Co.Id - Judul buku: Transintegrasi Ilmu Pengetahuan: Upaya Menuju Peradaban Dunia Baru Melampaui Post-Modernisme Penulis: Suaidi Asyari Penerbit: PT RajaGrafindo Persada Tahun: 2026 Tebal: 644 halaman
Kecerdasan buatan sedang mengubah hampir semua bidang kehidupan. Dokter mulai bekerja bersama algoritma dalam membaca hasil pemeriksaan. Guru dan dosen menghadapi mahasiswa yang dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Dunia usaha menggunakan mesin untuk memprediksi perilaku konsumen. Negara berhadapan dengan perang siber, manipulasi informasi, dan pertarungan penguasaan data.
Pertanyaannya, masih relevankah universitas membelah ilmu agama dan sains ketika masalah yang dihadapi manusia justru semakin tidak mengenal batas disiplin?
Pertanyaan itu menjadi salah satu pintu masuk yang menarik untuk membaca buku Suaidi Asyari, Transintegrasi Ilmu Pengetahuan: Upaya Menuju Peradaban Dunia Baru Melampaui Post- Modernisme.
Buku setebal 644 halaman ini lahir dari kegelisahan terhadap dikotomi ilmu, tetapi bergerak jauh melampaui perdebatan klasik “ilmu agama versus ilmu umum”.
Yang dipersoalkan bukan lagi hanya hubungan dua rumpun ilmu tersebut. Persoalannya adalah
apakah arsitektur pengetahuan yang kita miliki masih memadai untuk menghadapi dunia yang berubah sangat cepat.
AI Tidak Mengenal Batas Fakultas Ambil kecerdasan buatan sebagai contoh.
AI tentu memerlukan matematika, statistika, ilmu komputer, dan rekayasa perangkat lunak. Tetapi begitu AI digunakan dalam kehidupan manusia, persoalannya segera bergerak keluar dari laboratorium teknologi.
Siapa yang bertanggung jawab ketika algoritma menghasilkan keputusan yang merugikan manusia?
Bolehkah AI menggantikan sebagian fungsi dokter? Bagaimana jika mesin mengetahui kondisi kesehatan seseorang sebelum keluarganya mengetahuinya? Siapa pemilik data manusia? Bagaimana hukum menggunakan karya yang dihasilkan mesin? Sampai sejauh mana mahasiswa boleh menggunakan AI dalam penulisan akademik?
Pada titik itu, ilmu komputer membutuhkan hukum. Hukum membutuhkan etika. Etika berhadapan dengan filsafat. Filsafat bersentuhan dengan agama. Semuanya harus kembali berhadapan dengan data empiris dan realitas masyarakat.
Itulah dunia transintegratif, bahkan sebelum kita menyebutnya “transintegrasi”.
Masalahnya, universitas sering masih bekerja dengan logika lama: persoalan dibagi berdasarkan fakultas, disiplin dipagari oleh program studi, dan dosen memperoleh pengakuan akademik terutama dari komunitas ilmunya masing-masing.
Dunia sudah berubah menjadi lintas disiplin. Universitas justru masih sibuk menjaga perbatasan disiplin.(*)
Raih IPK 4,0 Dr Ageng Sukses Pertahankan Disertasi Diujian Terbuka Universitas Andalas
Jefry ADP Gelar Resonan Tabuh di TBJ Gandeng Musisi, Seniman dan Penyair Jambi
Rektor IAIN Kerinci Jafar Ahmad Resmi Sandang Gelar Profesor Ilmu Politik dan Sosial Budaya
MB DN 205 Juara 3 di Bungo, Siap Unjuk Skill di Pawai Pembangunan Jambi
Dosen FKIP UNJA Sukses Gelar Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di Desa Mandalo Indah
Wisuda XII IAIN Kerinci Kukuhkan 538 Lulusan, Siap Bertransformasi Menuju UIN & Buka Program Doktor
Beasiswa Pemprov Jambi 2026 Resmi Dibuka! Sediakan 500 Kuota untuk Mahasiswa S1
UIN di Era AI: Masih Relevankah Membelah Ilmu Agama dan Sains?