Radarjambi.co.id-Higiene dan sanitasi kerap dianggap sebagai hal sepele dalam usaha pangan rumahan, padahal keduanya menentukan apakah produk makanan layak dan aman dikonsumsi.
Bagi pelaku UMKM, termasuk pengolah singkong di Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, menerapkan higiene dan sanitasi bukan formalitas, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan usaha.
Higiene dan sanitasi ialah kebiasaan menjaga kebersihan diri, makanan, peralatan,
dan lingkungan agar terhindar dari kuman penyebab penyakit seperti diare,
keracunan makanan, dan cacingan. Manfaatnya baru terasa optimal bila diterapkan
konsisten di setiap tahap produksi.
Kebersihan penjamah makanan atau food handler menjadi salah satu kunci utama.
Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sesuai standar World Health Organization
(WHO) serta memakai masker, penutup kepala, dan sarung tangan terbukti
menekan risiko kontaminasi seperti Salmonella.
Uji laboratorium menunjukkan tangan yang dicuci dengan benar menghasilkan koloni mikroba jauh lebih sedikit, sehingga produk lebih aman dan kepercayaan konsumen tetap terjaga.
Ketelitian memilih bahan baku singkong juga tidak kalah penting. Singkong secara
alami mengandung sianida, terutama pada jenis yang pahit, sehingga harus dipilih
dalam kondisi segar dan dimasak matang sebelum dikonsumsi. Dengan mengenali
ciri singkong yang baik, pelaku UMKM dapat mencegah keracunan sekaligus
menjaga cita rasa produk.
Higiene sanitasi dalam pengolahan bahan turut berperan besar, khususnya menjaga
pangan pada suhu aman: tidak membiarkan makanan matang lebih dari dua jam di
suhu ruang, menyimpan bahan mudah rusak di bawah 5°C, dan mempertahankan
suhu makanan di atas 60°C sebelum disajikan.
Ditambah kebersihan alat masak dan bahan yang halal, produk UMKM menjadi lebih tahan lama dan aman didistribusikan. Higiene lingkungan produksi menjadi pelengkap yang tak boleh diabaikan.
Sarana pembersihan, fasilitas higiene karyawan, dan sarana cuci tangan yang memadai menciptakan standar produksi konsisten, menekan risiko kontaminasi silang,
sekaligus menjadi nilai tambah yang membuat produk lebih dipercaya di pasar.
Penerapan higiene dan sanitasi bukan sekadar memenuhi standar kebersihan,
melainkan langkah strategis yang menentukan keamanan, kualitas, dan daya saing
produk UMKM.
Ketika penjamah, bahan baku, proses pengolahan, dan lingkungan produksi terjaga kebersihannya, produk olahan singkong Desa Pengkol akan lebih aman dikonsumsi dan berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas.(*)
Berdayakan Warga Gresik, KKN Untag Surabaya Hadirkan Inovasi Olahan Tape Pisang dan Mi Sukun
Mursyid Yusmar Sonsang Kembali Mencatatkan Namanya Dalam Dunia Diplomasi Pers Tanah Air
Inovasi Produk Lokal sebagai Kunci Peningkatan Nilai Tambah Hasil Perikanan
Menyusuri Taman Kemesraan: Wisata Alam Bernuansa Budaya Jawa di Pujon
PTPN IV Regional 4 Ramaikan Festival Rakyat Bazar UMKM Kadin dan Korem 042/Garuda Putih