Radarjambi.co.id-Guna mendorong kemandirian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar pelatihan pengolahan pangan lokal.
Rilies yang diterima radarjambi.co.id (14/07) menyebutkan, kegiatan yang dimentori oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Novi Andari, S.S., M.Pd., ini berfokus pada pembuatan dua produk inovatif, yaitu Tape Pisang dan Mi Sukun. Program strategis ini diinisiasi untuk mendongkrak nilai jual hasil bumi desa agar memiliki daya saing ekonomi yang lebih tinggi berbasis potensi daerah.
Desa yang menjadi lokasi KKN ini sejatinya memiliki limpahan panen pisang dan sukun yang sangat produktif. Sayangnya, selama ini warga cenderung menjualnya dalam bentuk buah segar, sehingga keuntungan yang didapat tergolong minim.
Masalah lain muncul saat panen raya tiba; penyerapan pasar yang tidak optimal sering kali membuat hasil tani menumpuk hingga akhirnya membusuk dan terbuang sia-sia.
Berdasarkan hasil observasi lapangan dan serap aspirasi bersama warga setempat, tim mahasiswa KKN menangkap adanya kebutuhan mendesak akan teknik pengolahan alternatif yang mampu memberikan nilai tambah (value added).
Sebagai solusi, mereka memperkenalkan inovasi Tape Pisang—produk fermentasi dengan rasa yang unik—serta Mi Sukun yang diolah dari tepung sukun sebagai opsi pangan sehat yang padat gizi dan kaya serat.
Rangkaian kegiatan edukasi ini dimulai dengan pemaparan teori seputar pentingnya diversifikasi pangan. Warga diberikan pemahaman komprehensif mengenai kandungan nutrisi pisang dan sukun, analisis peluang usaha, pemetaan pasar, hingga standar kualitas produk agar siap bersaing di pasaran.
Setelah sesi materi, para peserta langsung diajak mempraktikkan pembuatan Tape Pisang. Prosesnya mendetail, mulai dari kurasi bahan baku yang berkualitas, teknik pengukusan, takaran ragi yang pas, hingga prosedur fermentasi yang benar.
Selain itu, aspek higienitas (sanitasi) selama produksi serta metode penyimpanan yang tepat turut diajarkan agar kualitas produk tetap konsisten.
Tak berhenti di situ, warga juga dibekali keterampilan membuat Mi Sukun. Langkah-langkahnya diperagakan secara bertahap, meliputi konversi buah sukun segar menjadi tepung, pencampuran adonan, pencetakan mi, proses pengeringan, hingga teknik pengemasan akhir. Mi Sukun ini diproyeksikan menjadi alternatif pangan sehat yang tahan lama berkat kandungan seratnya yang tinggi.
Sebagai langkah pendampingan yang berkelanjutan, mahasiswa KKN Untag Surabaya juga memberikan pembekalan aspek bisnis. Warga diajarkan cara merancang desain kemasan yang memikat, menyusun label informasi produk, menjalankan strategi promosi digital, hingga kalkulasi biaya produksi untuk menentukan harga jual yang ideal.
Melalui program kerja ini, masyarakat diharapkan mampu mengelola potensi pertanian desa secara lebih optimal dan berkelanjutan. Kehadiran Tape Pisang dan Mi Sukun ini diharapkan tidak sekadar menciptakan peluang usaha baru dan meningkatkan pendapatan warga, melainkan juga sukses menjadi produk ikonik yang mengangkat identitas lokal desa ke ranah pasar yang lebih luas.(*)
Mursyid Yusmar Sonsang Kembali Mencatatkan Namanya Dalam Dunia Diplomasi Pers Tanah Air
Inovasi Produk Lokal sebagai Kunci Peningkatan Nilai Tambah Hasil Perikanan
Menyusuri Taman Kemesraan: Wisata Alam Bernuansa Budaya Jawa di Pujon
Taman Kemesraan Pujon, Destinasi Instagramable yang Worth It Dikunjungi Bersama Keluarga
Pemanfaatan Media Digital dalam Promosi Kampung Heritage Kajoetangan, Malang
Berdayakan Warga Gresik, KKN Untag Surabaya Hadirkan Inovasi Olahan Tape Pisang dan Mi Sukun