Radarjambi.co.id-Berbicara tentang pendidikan, pernyataan yang sering sekali muncul adalah meningkatkan kualitas lulusan untuk persiapan di dunia kerja. Segala sesuatunya diperbarui baik kurikulum, teknologi, fasilitas, bahkan perjanjian hubungan antara sekolah dengan industri di pererat.
Tidak ada yang salah dalam semua itu, akan tetapi apakah pendidikan hanya sekedar sebagai wadah cetak tenaga kerja atau mendidik manusia menjadi lebih baik dalam kehidupan nya?.
Sepele tapi sangat mendalam pertanyaan dasar tersebut. Tujuan utama pendidikan yang dari dulu digaungkan, kini hanya terbatas di dalam buku cetak. Jika kita tarik mundur pada tahun 1960-1980 an, Indonesia mengalam masa keemasan dalam dunia pendidikan bahkan hingga Asia Tenggara (Kompas, 07/08/2018).
Guru dan siswa ikut aktif dalam pertukaran tenaga didik dan siswa antar negara sebagai bentuk kerja sama bilateral negara Indonesia dengan Malaysia. Sehingga banyak sekali mencetak generasi yang berkualitas pada masa itu, seperti Prof. Dr. Ing. H. B. J. Habibie (pembuat pesawat pertama di Indonesia), Prof. Dr. Widjojo Nitisastro (Penggagas REPELITA), Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo (Begawan Ekonomi Indonesia), dan masih banyak lainnya. Atas pemikiran mereka dulu Indonesia mengalami masa-masa gemilang di eranya.
Pendidikan berbeda dengan mengajar. Pendidikan lebih dari pada suatu transfer ilmu dan keahlian, tetapi pembentukan kesadaran, kepribadian, dan budi pekerti adalah hal yang utama untuk mempersiapkan anak dalam kehidupan bermasyarakat nantinya.
Pendidikan semacam ini tidak hanya mengedepankan keahlian dalam satu bidang, akan tetapi mengembangkan potensi dan akhlak ( aql ) pada peserta didik. Seperti pernyataan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia menyatakan "Pendidikan pada umumnya berarti daya upaya untuk memajukan Budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek), dan Jasmani anak-anak yang selaras dengan alam dan masyarakat".
Jika tolak ukur yang digunakan pendidikan sekarang masih sama dengan dulu, tentu anak-anak akan lebih bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu pengetahuan. Generasi muda akan lebih siap dalam realitas kehidupan.
PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ILMU
Pendidikan pada dasarnya lebih luas dari sekadar pengajaran. Kita sering mendengar kata “menimba ilmu”. Menimba dalam artian menuntut yang mana kata ini merujuk pada tuntutan dalam pendidikan adalah mendapatkan ilmu sebanyak-banyak nya.
Sedangkan ilmu adalah sekumpulan pengetahuan-pengetahuan yang terkumpul dari segala teori dan pengalaman manusia yang bertujuan untuk mencapai kebenaran. Kebenaran dalam pendidikan ialah tercapai suatu tujuan tertentu seperti pemikiran ilmiah, cita-cita, dan kemudahan dalam pemecahan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan kedepannya.
Pada peserta didik umumnya mereka mendapatkan ilmu lewat pengajaran dari guru, pengalaman dan literasi. Guru memiliki peran yang penting dalam membentuk kesadaran dan kepribadian siswa dalam lingkup sekolah. Guru berfungsi sebagai fasilitator untuk mendukung dan membimbing potensi siswa bukan hanya mencekoki ilmu saja kepada siswa.
Seperti pernyataan terkenal dari Paulo Freire dalam bukunya pendidikan kaum tertindas yaitu banking concept of education, pendidikan harusnya bukan proses menabung di mana murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya.
Sehingga jika guru memahami apa sebenarnya hakikat menjadi pendidik tentu akan mencetak generasi emas yang berpotensi pemikir kritis, mandiri dan memiliki kesadaran atas hak dirinya dalam pendidikan.
Literasi adalah jembatan menuju ilmu dalam bentuk rasionalisme. Orang yang rasional akan memiliki pola pikir berupa idea. Idea pada dasarnya sudah ada dalam pikiran manusia, namun idea hanya berputar pada pikiran manusia sehingga kebenarannya hanya anggapan individu ( solipsisme ).
Sebab itu untuk menuangkan idea tersebut muncul pola berpikir yang berlawanan yaitu empirisme. Menurut pandangannya pengetahuan ini diperolah dari pengalaman bukan apriori di benak saja. Kedua pola berpikir ini kemudian digabungkan untuk menyusun metode yang lebih diandalkan yang dinamakan metode keilmuan.
Dimana gabungan kedua terbentuk rasionalisme dengan kerangka berpikir koheren dan logis. Sedangkan empirisme merupakan rangka pengujian dalam memastikan kebenaran.
Anak-anak yang memiliki pola pikir gabungan ini akan jauh lebih siap atas dirinya. Generasi yang dihasilkan bukan hanya memikirkan sekedar materil untuk menjadi tenaga kerja, namun bisa lebih berkembang dari pada itu.
Mereka mampu untuk menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi karena sifatnya ilmu adalah membantu manusia untuk memecahkan masalah di kehidupannya.
Pentingnya mendidik anak-anak dengan pola berpikir yang baik sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang otak. Anak akan menjadi orang yang lebih kritis terhadap sesuatu, memiliki kesadaran, dan memiliki kepribadian yang kuat.
Jika anak di didik hanya sebagai budak tenaga kerja, anak akan di desain untuk menuruti perintah dari atasan saja, tidak memiliki kemampuan lain , atau yang lebih parah sebagai pengangguran terdidik (fenomena mismatch).
ESENSI PENDIDIKAN YANG MEMUDAR
Nilai dari pendidikan itu sendiri kian hari kian pudar. Pendidikan di nilai sebagai komersialisasi dan formalitas semata. Pembentukan karakter dan kepribadian anak yang seharusnya dikedepankan, berubah menjadi nilai materil tenaga kerja.
Hal ini berdampak pada nilai kesopanan, moral dan etika siswa terhadap guru yang memburuk sepanjang tahun. Kasus-kasus seperti ini sudah banyak beredar di berita nasional. Kurikulum yang di bentuk kiranya tidak hanya mengedepankan akademis, melainkan pembentukan sikap, karakter dan moral siswa.
Selain itu, orang tua juga sangat berperan besar dalam kepribadian anak dirumah. Orang tua dan guru dapat berkolaborasi bersama mendidik anak supaya menjadi generasi yang berguna bagi dirinya dan orang sekitar.
Mengedepankan karakter, kepribadian, kesadaran, dan sikap anak adalah hal yang sangat penting di samping nilai akademik yang perlu di raih. Anak yang dibentuk dengan pemikiran semacam ini menjadi lebih tangguh, berwawasan, dan kepribadian yang baik untuk mencapai kebenaran yang seutuhnya.
Jadi hakikat dari pendidikan bukan sebagai wadah cetak tenaga kerja, tetapi lebih kepada mendidik manusia supaya menjadi pribadi yang sadar akan potensi diri, kritis, berpikir ilmiah, memiliki karakter, dan dapat mengontrol dirinya sendiri pada permasalahan yang muncul di kehidupan nya.
Generasi muda yang tercetak akan melahirkan calon-calon yang berbudi pekerti dan ber intelek.
Penuis : Septi Andini Lulusan : S1 Pendidikan Biologi